Kisah Cerita Membangun Juang Harapan Yang Menjadi Nyata


Kisah Cerita Seorang Lulusan SD Bisa Membiayai Kuliah Anaknya

Pada suatu hari, dimana seorang anak yang masih berumur 7 tahun, tinggal di daerah Kota Tasik. Ia seorang anak sekolah yang masih duduk kelas dua SD. Ia rajin bekerja dalam setiap harinya, terutama ia suka mengembala domba ayahnya. Sejak itu ia suka rajin beribadah, mengaji, dan ia suka berangan-angan ingin bisa belajar ngaji di pesantren. Yang dikarenakan ia terlahir dikalangan orang yang banyak kekurangan, orang tuanya tidak bisa mewujudkan angan si anak itu.

Suatu hari, dimana ia baru saja pulang sekolah, ia melihat ayahnya sedang jatuh sakit. Ia seorang anak yang sangat berbakti dan sangat menyayangi ayah dan ibunya. Ia sedih ketika melihat ayahnya sedang jatuh sakit, maka dari itu ia lebih rela mengorbankan sekolahnya yang masih duduk di bangku kelas dua SD untuk mengobati ayahnya dan meninggalkan sekolahnya untuk membiayayai ayahnya yang sedang sakit.

Tak terasa ia sudah berumur 17 tahun. Ia merasa bosa berada dirumah dan pergi meninggalkan rumahnya untuk mencari uang ke kota dengan berdagang asongan. Ia berpindah-pindah tempat untuk berdagang. Sampai ia berumur 25 tahun, ia menikah denga seorang gadis yang tinggal di daerah Kecamatan Banjarsari. Dan ia pun mulai melamar pekerjaan disebuah PT yang alhamdulillah pada akhirnya ia diterima. Tak terasa kemudian ia mempunyai anak seorang lelaki dan seorang perempuan.

Pada suatu hari ia teringat masa kecilnya bahwa ia pernah ingin bisa belajar ngaji di pesantern, yang dulu ia hanya bisa berangan saja. Dan ia pun menyuruh anak laki-lakinya untuk pergi belajar ngaji dipesantern supaya anaknya itu bisa mempunyai bekal agama. Ia pun sanggup dan mampu membiayayai anaknya dalam berapapun keluarannya untuk membiayai anak laki-lakinya, dan membiayayai anak perempuannya yang masih duduk dikelas 3 SD.

Tak terasa ia mempunyai anak yang sudah berumur 18 tahun dan anak perempuannya yang sudah 12 tahun yang mesih memerlukan pendidikan serta biaya. Ia bingung dan hanya bisa berdoa serta berharap bisa lancar dalam membiayayai anak keduanya, terutama anak laku-lakinya. Karena biayayanya yang sangat besar, dan mingkin bila dipikir-pikir, seorang pedagang kopi ditempat kerjanya bisa membiayayai uang kuliah persemester di Universitas Besar. Sedangkan ia mempunyai penghasilan 500 ribu perminggu dan ditambah dengan uang hasil danggangan kopi menjadi antara 800 ribu. Ia harus membiayayai anak keduanya perbulan antara 20 jutaan plus keperluan sehari-harinya.

Bayangkan, ia seorang lulusan SD yang dari awalnya menjadi pedagang asongan dan diterima di lapangan kerja tetap yang penghasilannya sekitar 800 ratus ribu perminggu, belum lagi dikurangi modal untuk makan, uang ongkos, dan modal untuk membeli kopi. Ia bisa berjuang dari sejak dini sampai ia bisa membiayayai anak-anaknya tanpa ada keluh kesal dalam hatinya. Sampai sekarang ini ia masih membiayayai anak-anaknya.

Semoga cerita ini bermanfaat bagi kalian para pembaca. Mohon maaf agan bila ceritanya dan kata-kata atau susunan kalimatnya kurang bagus. Mohon dimaklumi karena saya bukan si akhli pengarang cerita, tetapi itu kisah nyata looo...jhehhee
Perhatian Copas !!! "Mohon bagi anda para sahabat blog, jangan sekali-kali copy paste dengan tanpa mencantumkan link sumber kami dan menulis tanpa anda tulis dalam narasi atau kalimat anda sendiri saya akan mengapus url anda sesuai kebijakan privasi google DMCA/DMCA.com. Atas perhatiannya, saya ucapkan terimakasih."
Next
Previous

No comments

aturan berkomentar pada blog ini !.
1. berkomentarlah dengan baik, sesuai konten yang dibahas dan berkualitas.
2. kalimat yang tidak berkenan saya akan hapus.
3. jika menaruh "LINK HIDUP" akan dimasukan ke folder spam.
4. dilarang mempromosikan produk melalui komentar.

Emoticon